Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Jalan Menuju Ikhlas

Sudahkah kita menjadi pribadi yang ikhlas ? kalau masih sering mengeluh dan menggerutu, berarti keikhlasan kita diragukan. Meskipun bisa sabar dalam menghadapi cobaan, kalau kita merasa masih ada yang kurang, ada yang mengganjal dalam menjalani kehidupan ini, berarti kita belum benar-benar ikhlas.

 

Kami tidak mengatakan bahwa menjadi sosok yang ikhlas itu mudah. Menjadi pribadi ikhlas memerlukan perjuangan yang sangat berat. Kita butuh usaha yang terus menerus dan konsisten. Mulut bisa saja mengatakan kita sudah bersifat ikhlas, tapi hati belum tentu. Inilah masalah yang paling esensial dalam ikhlas, berusaha supaya keikhlasan terucap dibibir, tapi juga merasuk ke dalam jiwa dan terwujud dalam perbuatan.

Godaan untuk menyimpang dari keikhlasan pun sangat besar, khususnya pamer atau riya. Ketika tangan kanan kita memberi, mampukah kita menyembunyikan tangan kiri supaya tidak tahu / Saat kita menolong dianggap berjasa ? saat menyumbang uang ke masjid, mampukah kita mengenyahkan bahwa sumbangan ditujukan supaya kita dianggap dermawan ? penyakit riya ini ibarat semut hitam diatas batu hitam di tengah malam yang kelam. Sulit sekali untuk dilihat. Perbedaan antara ikhlas dan riya sangat tipis, lebih tipis dari kulit bawang. Itulah sebabnya mengapa ikhlas saya katakan sulit untuk diinternalisasi, dan hanya bisa dicapai oleh orang yang senantiasa berlatih.