Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

 

BERHARAP UAN LEBIH BAIK

AYAH dan ibu, mungkin saat ini memiliki anak yang akan menghadapi UAN (Ujian Akhir Nasional) atau UN (Ujian Nasional) di sekolah, apakah itu tingkat SD, SMP, atau SMA. Ya, UAN atau UN momok beberapa tahun terakhir. Sederet kecemasan pun menyergap. Anak tidak lulus atau tidak bisa masuk sekolah lanjutan yang diharapkan? Anak susah diminta belajar? Malah terus-terusan main internet, ponsel, main dengan teman-teman?

 

Kecemasan orangtua membuat anak "takut"

"Hati-hati dengan kekhawatiran Anda," Perlu diketahui para orangtua, bahwa kekhawatiran, kecemasan, dan kesedihan anak-anak kita yang akan menghadapi UN sebanyak 80 persen bukan disebabkan ketidaksiapan terhadap materi pelajaran atau materi yang akan diujikan. Karena pada dasarnya, dengan persiapan di sekolah, ditambah bimbingan belajar, dan lain-lain, mereka secara sadar (siap tidak siap), sudah mengetahui pada saatnya nanti pasti akan menghadapi UN,” bebernya. Jadi “masalah” dari luar yang sebanyak 80 persen itulah yang menjadi kendala terberat mereka. Apa sajakah itu? Anggia memaparkan kesimpulannya sebagai berikut:

  • marah karena orangtua selalu memaksa ketika menyuruh belajar.
  • sedih karena lingkungan (baik rumah, sekolah, dan lain-lain) selalu menakut-nakuti tidak lulus.
  • takut membuat orangtua kecewa jika mendapat nilai jelek.
  • takut membuat orangtua sedih jika tidak bisa masuk ke sekolah lanjutan yang diharapkan.

“ Bantu anak menghadapi UAN (Ujian Akhir Nasional) dengan cara yang terbaik “

Ayah dan ibu, sedianya tugas kita untuk memotivasi anak-anak dalam setiap perbuatan baik. Termasuk saat anak-anak menghadapi UAN, yang merupakan momen penting dalam perjalanan hidup mereka. Tapi orangtua sering kali tidak sadar, dengan lebih sering menjadikan mereka sebagai objek. "Menghadapi UAN, orangtua sering kali berfokus pada keinginan dan harapan sendiri. Lupa bahwa anak mempunyai hak terhadap hidupnya. Paling parah, orangtua pun sering  mengabaikan proses yang telah mereka lakukan serta mengabaikan emosi anak-anak," papar Anggia.

Oleh karena itu, patut dilakukan upaya "memanusiakan" anak-anak dengan tujuan menyehatkan emosi mereka. Emosi yang sehat tentu memengaruhi performa mereka dalam menjalani ujian nanti. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan para orangtua:

marilah kita sebagai orangtua, meminta maaf dengan tulus kepada anak-anak. Karena entah telah berapa kali menjadikan mereka objek. Memaksakan mereka untuk sesuai keinginan dan harapan kita, tapi lupa bertanya bahkan mengabaikan keinginan dan harapan mereka.

di waktu yang hampir menjelang ini, mari sama-sama kita mengerem untuk menyuruh mereka belajar. Bukan tidak boleh, tapi sebaik-baiknya kita sedikit menahan untuk tidak terus-menerus memaksa mereka belajar. Percayalah, pada dasarnya mereka sudah cukup siap secara materi (apalagi dengan tambahan bimbingan belajar).

jadilah orangtua "sesungguhnya", yang melindungi, mendukung, memberi kekuatan, memberi motivasi, dan doa yang tiada henti. Karena di detik-detik ini, itulah yang anak-anak kita butuhkan, lebih dari apa pun. Hargai proses yang selama ini mereka lakukan.

bersama-sama seluruh keluarga (ayah, ibu, dan anak-anak) "membiasakan" untuk memaksimalkan ikhtiar, ibadah, dan sikap tawakal untuk hasil yang akan diterima. Belum terlambat untuk memulai dukungan terbaik dari sekarang.

 

Sumber : Tabloid Bintang Indonesia