Mengapa disiplin itu penting?

Berkaca dengan orang-orang sukses, ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki kedisiplinan. Disiplin waktu, disiplin dengan program yang dibuat, disiplin dalam menjaga kesehatan, disiplin dalam ibadah dan sebagainya.

 

Untuk itulah orang tua berusaha keras mendidik anak agar terbiasa dengan pola disiplin, mulai dari hal yang terkecil dan mulai dari usia sedini mungkin?

 

Apakah disiplin itu ?

Dari berbagai pengertian disiplin dapat dibuat suatu gambaran bahwa disiplin berhubungan dengan adanya serangkaian aturan, norma, ketentuan yang harus ditaati oleh seseorang atau sekelompok orang yang ditetapkan oleh orang tua, guru, atau pemimpin. Penegakkan disiplin hendaklah diikuti dengan adanya konsekuensi atas penerapannya, yaitu hukuman bila terjadi pelanggaran aturan, norma atau ketentuan.

Menurut pakar perkembangan Hurlock (1978) : Perilaku disiplin merupakan perilaku seseorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seorang pemimpin. Orang tua dan guru merupakan pemimpin, sedangkan anak merupakan murid yang belajar dari orang dewasa tentang hidup yang menuju kearah kehidupan berguna dan bahagia dimasa datang. Jadi disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak untuk berperilaku moral yang disetujui kelompok.

 

Kohlberg,  menjelaskan tentang Taraf  Perkembangan disiplin :

Taraf 1. Disiplin karena ingin memperoleh kasih sayang dan takut hukuman. (pada tahap ini anak tidak ada rasa bersalah untuk pelanggaran yang dilakukannya).

 

Taraf 2. Disiplin jika kesenangan dipenuhi (pada tahap ini ortu harus hati-hati untuk tidak selalu memenuhi keinginan anak agar disiplin yang diterapkan menjadi efektif).

 

Taraf 3. Disiplin karena mengetahui ada tuntutan di lingkungan. (pada usia sekolah mereka mengetahui ada aturan - aturan di sekolah atau lingkungan luar, jika anak sudah terbiasa di disiplin dilingkungan rumah maka ia akan mudah mengikutinya).

 

Taraf 4. Disiplin karena sudah ada orientasi terhadap otoritas (mereka akan mengikuti perilaku figure otoritas, pandangan mereka tentang penerapan daturan apakah perlu dijalankan secara ketat atau dapat dilanggar tergantung pada apa yang dia amati dari figure-figur otoritas).

 

Taraf 5. Disiplin karena telah melakukan nilai-nilai sosial, tata tertib atau prinsip-prinsip (mereka sudah dapat menilai baik-buruk, sudah cukup terlatif untuk mengontrol perilakunya dan mengarahkan dirinya pada hal-hal yang disetujui oleh kelompok sosialnya.

Schaefer (1996) mengatakan bahwa pendisiplinan akan lebih efektif jika memenuhi criteria.

1.     menghasilkan suatu keinginan perorangan atau pertumbuhan pada diri anak.

2.     Harga diri anak tetap terjaga.

3.     Selalu ada hubungan dekat antara anak dan orang tua.

Apa yang harus dilakukan orang tua dalam menanamkan disiplin pada usia anak-anak, terutama ketika harus menegakkan disiplin itu dengan memberikan konsekuensi hukuman bila dilanggar?

Yang pertama, orang tua harus memiliki pengetahuan bahwa.

·         Disiplin tidak tertanam begitu saja

·         Disiplin yang ditanamkan pada masa kanak-kanak harus menyesuaikan dengan perkembangan   usia anak.

·         Setiap usia ada kemampuan yang dikuasai dan ada yang belum dikuasainya.

Yang kedua, orang tua harus memiliki pengetahuan tentangn cara-cara yang tepat dan efektif dalam melatih disiplin sesuai dengan usia perkembangan anak.

Yang ketiga, disipilin adalah perilaku yang dipelajari anak dari orang tua, guru atau orang-orang disekitarnya.

Yang keempat, membuat aturan dengan satndar-satndar yang realistis, mengkomuniasikannya pada anak dan menetapkan kebjaksanaan-kebijaksanaan, bukan standar mutlak, dan menetapkan/membuat kesepakatan bersama.

Disiplin ditanamkan sejak usia anak masih sangat muda melalui pola-pola pembiasaan oleh orang tua, pengasuh dan orang-orang disekitarnya. Misalnya :

·         Menyusui tepat waktu/makan tepat waktu

·         Tidur pada jam tertentu

·         Melatih membuang air

·         Melatih anak mengikuti pola orang tua disaat anak memasuki usia menjelajah dimana anak sangat sulit diatur.

·         Dapat diajak berpikir mengenai konsekuensi yang diterima bila berbuat salah dan bila berbuat benar.

·         Disiplin melalui kegiatan sehari-hari (membereskan mainan, mencuci tangan sebelum makan, mencuci kaki sebelum   tidur)

·         Membuat peraturan/tata tertib di rumah secara menyeluruh.

Banyak cara yang dipilih seseorang dalam menegakkan disiplin. Namum beberapa cara memberikan dapak yang buruk bagi perkembangan psikologis anak dimasa yang akan datang. Salah satunya adalah pola kekerasan yang banyak dipilih orang tua atau pendidik dalam menerapkan disiplin. Terutama berhubungan dengan pemberian hukuman sebagai konsekuensi dari pelanggaran disiplin.

Ada cara yang cukup efektif yang dapat dilakukan dalam menerapkan disiplin :

1.     menunjukkan penolakan untuk perilaku yang tidak diinginkan.

2.     Mengabaikan keberadaannya

3.     Membelakangi

4.     Tidak memberikan perhatian untuk beberapa saat

5.     Pura-pura tidak melihat.

6.     Menolak menaggapi/mendengar pembicaraan anak.

7.     Tidak memenuhi keinginan anak.

Konsisten dalam menegakkan disipilin.

Penerapan disiplin oleh orang tua dan guru  dapat menjadi kontrol bagi perilaku.  Bila disiplin sudah menjadi kebiasaan maka akan membentuk watak anak atau siswa. Untuk masa depannya akan menjadikan insan yang tertib, yang dapat membedakan  serta memilah hal-hal yang positif dalam hidupnya.

 

Salamahazhar in Blog