0351 454139
sman5madiun@gmail.com / admin@sman5madiun.sch.id
Kota Madiun, Jawa Timur, INA. 63139
blog-img
30/09/2020

BANTENG KETATON

budi irawan | Umum

Banteng Ketaton adalah banteng yang luka terkena senjata (definisi yang menggambarkan keadaan seseorang yang melawan atau mempertahankan diri dengan gigih)
            Rahasia kejayaan Singasari dan Majapahit bukan hanya terletak pada kekuatan ketentaraan dan ketangguhan personilnya saja, tetapi juga kesaktian dari keris-keris sakti mereka. Dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri jajahannya, mereka bukan hanya haru sberhadapan dengan bala tentara kerajaan lawan, tetapi juga rakyat sipil, tokoh-tokoh sakti dunia persilatan dan para pendekar setempat yang terpanggil untuk membela negerinya. Mereka siap perang frontal, tapi jugasiap diserang secara gerilya hit and hide. Mereka bukan hanya harus menghadapi kekuatan keprajuritan, taktik perang dan persenjataan musuh-musuhnya dan kesaktian kanuragan manusia, tetapi juga segala macam bentuk kesaktian gaib, serangan gaib sihir, santet, teluh, tenung dan berbagai macam keilmuan gaib musuh-musuhnya. Dan untuk mengalahkan segala macam bentuk kesaktian itu, selain digunakan kekuatan kesaktian dari diri mereka sendiri, juga digunakan kesaktian dari keris-keris mereka.

            Pada jaman Kerajaan Singasari, tentara kerajaan mendapatkan pelajaran resmi gerakan silat keprajuritan berdasarkan gerakan banteng dan macan (/singa). Di dalam formasi bertahan atau menyerang, barisan bertahan dan menyerang seperti banteng ini, selain menguatkan fisik tentaranya, juga sangat ampuh untuk mengalahkan pasukan lawan. Dengan bersenjatakan tombak panjang atau pedang, dengan barisan yang rapat, bergerak menyerang maju menusuk dan mundur bertahan, gerakan kaki menghentak ketanah, teratur saling mengisi da nmelindungi, gerakan barisan banteng ini membuat tentara lawan terdesak dan tak adar uang untuk menghindar, kecuali mundur atau kabur. Dan sifat-sifat banteng ketaton (banteng marah karena terluka) siap diterapkan dalam kondisi terdesak, tidak ada kata kalah atau mundur, lebih baik sama-sama hancur.

            Patung banteng dibuat oleh Trijoto Abdullah – pematung perempuan yang juga cucu pahlawan nasional Dokter Wahidin Sudirohusodo – pada tahun 1947, patung banteng dibangun untuk mengenang semangat warga Madiun dalam melawan agresi militer Belanda I. Dengan ekspresi banteng yang terlihat marah dan bertuliskan kata-kata “rawe–rawe rantas, malang–malang putung,” patung banteng di Madiun dikenal juga dengan banteng ketaton. Sebuah persembahan untuk rakyat Madiun dalam keberaniannya menentang agresi Militer Belanda.
            Awalnya, bersama patung banteng, terdapatlah patung seorang pejuang yang memegang bambu runcing. Ketika patung banteng dipindahkan ke StadionWilis, patung pejuang ditinggalkan di Taman MakamPahlawan. Dalam relasi kuasa dan pengetahuan ala Michel Foucault, pemisahan ini bisa dilihat sebagai strategi kuasa Orde Baru untuk mengeksklusi banteng sebagai simbol kepahlawanan.

            Rezim Orde Baru menganggap banteng sebagai simbol nasionalisme ala Partai Nasional Indonesia (PNI), partai nasionalis terbesar di masa Orde Lama yang dipaksa berfusi kedalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada pemilu kedua masa Orde Baru. Orde Baru merepresi partai–partai politik peninggalan Orde Lama untuk mengamankan dogma “pembangunan adalah panglima”. Patung banteng yang terbuka di depan publik dianggap sebagai ancaman atas dogma ini oleh penguasa.

            Rezim Orde Baru akhirnya jatuh pada tahun 1998. Bersamaan dengan pembangunan kembali Stadion Wilis, patung banteng kembali terlihat dari pandangan publik yang melewati sisi selatan Stadion Wilis.

 

Bagikan Ke:

Populer